OPINI, PMII SURABAYA – Eksistensi ilmu sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Artinya, banyak–atau bahkan keseluruhan–lini kehidupan manusia disandarkan dengan ilmu, baik yang sifatnya duniawi maupun ukhrawi. Hal tersebut dapat disimpulkan bahwasannya seseorang tidak dapat menjalankan kehidupannya secara optimal apabila tidak memiliki ilmu yang relevan dengan status yang disematkan padanya (baik sebagai Homo Sapiens atau Khalifah fil-Ardh).

Status, posisi dan keutamaan ilmu beserta pengembannya sudah banyak tertulis dalam dalil-dalil agama serta acapkali disinggung dalam forum-forum ilmiah. Hal tersebut merupakan bukti bahwa Islam sangat menjunjung tinggi ilmu serta menilainya sebagai sesuatu yang sangat krusial dan berharga. Allah SWT. berfirman :

يرفع الله الذين  ءامنوا منكم و الذين اوتوا العلم درجات والله بما تعملون خبير

Artinya: “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah : 11)

Dalam ruang lingkup organisasi keislaman, para organisatoris sering berpesan kepada kadernya supaya memperkaya khazanah keilmuannya. Demikian pula yang dilakukan oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai wadah kaum intelektual muda nahdiyin yang tentu sudah akrab dengan dunia keilmuan. Banyak tulisan dan produk intelektual lainnya yang sudah ditelurkan oleh para figur pergerakan “biru-kuning”, baik soal hakikat ilmu maupun wujud implementasi dari ilmu itu sendiri sesuai dengan latar belakang dan kapasitas keilmuan masing-masing.

Namun, kebanyakan dari kita menganggap bahwasannya ilmu semata-mata hanyalah tolok ukur intelektualitas seseorang dan sebatas jadi alat penunjang kehidupan belaka. Jarang ada yang berpendapat bahwa ilmu secara utuh merupakan suatu entitas tersendiri yang juga dapat diajak berinteraksi (baca: hablun minal-‘ilm) sebagaimana kita berinteraksi dengan Allah, manusia dan alam (yang kemudian tertuang dalam Nilai Dasar Pergerakan (NDP) dengan diksi hablun minallah, hablun minannas dan hablun minal-‘alam). Hal tersebut dapat berpotensi mereduksi kesadaran para sahabat dalam menghargai ilmu dan cenderung tidak bijaksana dalam berilmu, apalagi ketika mengamalkannya.

Mari kita mulai dengan menjawab persoalan tentang munculnya asumsi yang demikian. Setidaknya ada 3 (tiga) alasan yang mendasarinya. Pertama, dimensi eksistensial ilmunya benar-benar berbeda dengan objek interaktif yang lain. Jadi, wujud interaksinya pun bersifat khas sekalipun tetap terintegrasi dengan hablun-hablun yang lain.

Kedua (dan masih berkaitan dengan alasan pertama), perlu suatu instrumen pemandu agar implementasi hablun dapat dilakukan dengan baik. Apabila berkaitan dengan hablun minallah sekaligus tauhid, kita dapat bersandar pada ilmu akidah, fikih dan tasawuf sebagai rujukan. Berkaitan dengan hablum minannas, kita berpedoman pada ilmu akhlak, sosiologi, psikologi dan ilmu humaniora yang lain. Selain itu, kita bersandar pada ilmu bumi, fisika, kimia, biologi, matematika dan ilmu alam yang lain dalam memaksimalkan penerapan hablun minal-‘alam.

Bagaimana dengan hablun minal-‘ilm? Kita dapat menggunakan pemikiran Imam Al-Ghazali dan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari melalui kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim. Pengaplikasian ilmu filsafat secara terukur dan dengan tetap mengedepankan norma yang berlaku juga dapat menjadi katalisator dalam keberlangsungan interaksi dengan ilmu secara optimal.

Sebagai catatan, semua referensi yang digunakan dalam hablun minal-‘ilm sebenarnya masih tergolong dalam ranah hablun minannas. Namun, karena di awal sudah menganggap ilmu sebagai entitas tersendiri di luar manusia dan alam, maka referensi tersebut dapat dipakai secara terpisah.

Alasan terakhir, adanya konsep gagasan tentang hablun minal-‘ilm diharapkan dapat menjadi pengingat sekaligus cambuk dalam berperilaku secara layak dan elok terhadap ilmu agar menjadi insan ululalbab yang arif sebagaimana mestinya.

Jadi kesimpulannya, perlu adanya pondasi tambahan dalam membangun marwah pergerakan para Kader PMII berupa konsep hablun minal-‘ilm. Apabila dirasa kurang cocok untuk digolongkan sebagai nilai dasar, minimal sikap menghargai serta berlaku bijaksana terhadap ilmu dan keilmuan perlu ditanamkan kepada para agen pergerakan mahasiswa nahdiyin. Wallahu a’lam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Beranda
Informasi
Komisariat
Administrasi
Cari